bis dan bis

Loading...

Sabtu, 18 Februari 2012

Ke Malang, Kami Menjemput Bus Laks OH 1626


Setelah berbulan-bulan ditunggu-tunggu, akhirnya bus pertama Laks Premium Autobus bermesin OH 1626 itu jadi juga. Bus yang sempat tiga bulan terkatung-katung penggarapannya di karoseri Adi Putro, Malang, itu mendarat ke garasi Laks di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu malam, pukul 23.19 WIB setelah menempuh perjalanan panjang ratusan kilometer bertarung dengan macet, dari Kota Malang.


Bersama sekitar 19 teman-teman komunitas BisMania Community (BMC) Jakarta dan sekitarnya, kami menjemput bus ini melalui pemberangkatan dari pool Laks Premium Autobus di kawasan Pasar Rebo, Kamis petang, 2 Februari 2012, sekitar pukul 17.00 WIB. Menjadi pemimpin rombongan kami adalah Pak Nanto Sudarnanto, Manajer Operasional Laks, dengan membawa empat pengemudi dan dua asisten pengemudi.
Kami mengawali perjalanan dengan doa bersama di pool PO Laks, setelah sebelumnya kami tuntas memasang spanduk di badan belakang bus dengan lakban. Suasana Jakarta yang sebelumnya hujan lebat, menyertai keberangkatan kami.
Perjalanan ke Kota Malang sungguh melelahkan dan di luar dugaan kami. Bukan karena jarak yang begitu panjang mencapai 900 km lebih, tapi juga karena didera macet di mana-mana. Kami tempuh rute berangkat melalui rute tengah, Jakarta-Tol Cikampek-Indramayu-Tol Palimanan-Kanci- Tol Kanci Pejagan-Brebes-Tegal-Batang-Kendal-Semarang-Salatiga-Boyolali, Solo-Sragen-Ngawi- Magetan-Madiun-Nganjuk-Jombang-Mojokerto, lalu dari Terminal Kertajaya Mojokerto berbelok ke kanan melalui Kejapanan, tembus ke bundaran Apollo-Lawang-Singosari dan berhenti di karoseri Adi Putro di Kota Malang. Jarak tersebut kami tempuh selama 27,5 jam.
Bus Laks nomor lambung 405G Mercedes-Benz bermesin OH 1525 yang kami naiki dipacu dengan kecepatan kombinasi sedang dan tinggi. Sejak menjelang exit Tol Cikampek, macet sudah mengadang kami. Di exit Cikopo, rombongan kami bertambah dengan naiknya beberapa teman dari BMC Bandung dan BMC Cikapur, bergabung bersama kami menuju Malang.  Jalur Pantura cukup ramai lancar. Sejumlah bus malam AKAP berhasil kami libas dengan mudah. Kami sempat bertemu bus Safari Dharma Raya bermesin MB XBC 1518 bertransmisi matik Allison berada di depan kami. Bus ini berlari cukup ngibrit. Kelak, keesokan hari, kami kembali bertemu bus ini di sebuah ruas jalan di Jawa Tengah arah Solo. Juga, bus Safari Dharma Raya lainnya dengan body Morodadi Prima yang baru mengisi jajaran armada PO berbasis di Kebayoran Lama, Jakarta ini. Beberapa bus malam lain juga menjadi kawan perjalanan kami menuju Malang malam itu, seperti Rosalia Indah karoseri RS nomor lambung 286, Bejeu Scorpion King, beberapa unit Luragung, Muji Jaya, dan lain-lain. Semuanya dengan cukup mudah kami taklukkan.
Di kawasan Pantura Jawa Barat kami beristirahat sejenak untuk makan malam dengan menu prasmanan dan sholat di Rumah Makan Pringsewu, dengan ditemani hujan gerimis. Kami sempat sedikit kecewa lantaran menu yang disajikan kurang sesuai dengan yang dijanjikan saat pembayaran uang muka. Untungnya, soal citarasa, menunya cukup bagus. Jika diukur dengan skala 0-10, nilainya 7,5. 
Usai makan dan sholat jama' perjalanan kami lanjutkan menembus malam Pantura dengan kondisi permukaan jalan yang rusak hampir merata mulai dari Indramayu, sampai Pekalongan nantinya. Kali ini bus dikemudikan driver kedua.
Bus sempat transit sebentar di SPBU Muri di ruas Kabupaten Tegal untuk mengakomodasi teman-teman yang perlu buang air kecil karena memang bus yang kami pakai menjemput armada dari Malang memang tak dilengkapi dengan toilet.
Setiba di tanjakan Kabupaten Batang kami dihadang macet hingga empat jam lebih karena padatnya arus kendaraan malam itu, baik yang mengarah ke Jawa Tengah maupun ke Jakarta.
Informasi yang beredar di kalangan pengemudi, macet terjadi karena truk yang gagal menaiki tanjakan. Polisi memang turun tangan, tapi macet baru benar-benar bisa diurai menjelang adzan subuh.
Mengurai jenuh menunggu macet terurai, beberapa teman memutuskan membeli buah duren yang memang banyak dijajakan penduduk di sepanjang jalan negara yang menjadi urat nadi transportasi darat Pulau Jawa ini. Sayang, karena salah memilih, sebagian durian yang kami nikmati malam itu hasilnya kurang manis. Yang jelas, malam itu kami memang pesta durian! Suasana semakin seru dengan ditingkahi obrolan ringan, juga saling berbagi info dengan beberapa pengemudi truk tentang kondisi Pantura saat ini.
Macet terurai, bus pun melanjutkan perjalanan ke Malang. Di perjalanan, beberapa teman mengeluh perlubuang air kecil. Mungkin karena hawa dingin ya?! Bus kemudian transit di sebuah SPBU lagi.
Memasuki kawasan Krapyak, Semarang, hari sudah sangat terang. Lalu lintas ramai-lancar oleh warga yang berangkat beraktivitas diselingi ramainya angkutan umum dan anak sekolah.
Bus langsung masuk tol mengarah ke Salatiga. Kami lalu istirahat sejenak di Terminal Tingkir, Kota Salatiga untuk sarapan pagi. Sebelumnya, kami sudah mengontak teman BMC di Salatiga, Lang Widya Praba Wasista, untuk memintakan izin parkir di dalam area terminal. Pilihan kami untuk sarapan kali ini adalah Soto Kwali Pak Iket. Stan soto ini begitu terkenalnya di kalangan teman-teman BMC, juga para pengguna jasa Terminal Tingkir. Terbukti sepagi itu, ketika kami memasuki gerai soto ini, sejumlah calon pembeli sudah mengantre. Semangkuk soto dengan daging suwir yang disajikan panas-panas, ditemani babat dan pilihan jerohan lain, tahu/tempe goreng plus teh manis hangat mengisi perut kami yang mulai keroncongan karena hadangan macet berjam-jam semalam. Sungguh nikmat! Buat Anda yang penasaran dengan citarasa soto ini, silakan temukan di los stan terminal bagian timur. Stannya menghadap ke barat bersebelahan dengan agen bus malam Rosalia Indah. Harganya pun sangat terjangkau.
         Temmy Tertinggal di Toilet Terminal
Beberapa teman menyempatkan kabur ke toilet di sisi selatan terminal untuk cuci muka. Setelah 40 menit kami beristirahat, bus kembali melanjutkan perjalanan ke Malang. Bus perlahan beringsut  keluar terminal diiringi lambaian tangan Mas Lang Widya ke teman-teman yang sudah berada di kabin bus.
Sekitar 25 meter melaju di jalan raya, teman-teman di bus baru menyadari jika ada satu anggota rombongan ketinggalan di terminal. Ternyata dia adalah Temmy Ario, teman dari BMC Jakarta yang penggemar berat Lorena. Bus berjalan perlahan, dan Temmy terlihat berlari-lari kecil mengejar bus. Tawa teman-teman pun berderai. Jalan menuju Solo makin ramai oleh suasana lalu-lintas pagi. Sesampai di Solo, belasan teman dari BMC Solo dan Masdusel naik, bergabung bersama bus kami, menambah rombongan menuju Malang. Perjalanan semakin seru dan berwarna dengan beragam obrolan di dalam kabin bus. Sejak memasuki Madiun sampai ruas jalan di wilayah Nganjuk, hujan turun sangat deras. Menjelang Kertosono, hujan mulai reda. Bus kembali transit ke sebuah SPBU di barat Terminal Kertosono.  
Bus kembali melanjutkan perjalanan ke Malang melalui Mojokerto, Kejapanan. Hari sudah beranjak gelap. Menjelang pertigaan Kejapanan jalan mulai macet oleh pertemuan arus lalu lintas
dari arah Surabaya dan Malang-Pasuruan. Memasuki Lawang, lalu Singosari, jalanan lancar hingga kami tiba di Karoseri Adi Putro sekitar pukul 21.30 WIB.
Setelah laporan ke satpam di bagian depan, bus merapat masuk halaman karoseri yang tertutup tembok dan pagar tinggi. Di dalam, kami sudah disambut teman-teman dari BMC Malang, Mas Dudi, Aswin, Hendro dan kawan-kawan. Karena dihadang macet parah di Porong, rombongan teman-teman BMC dari Surabaya, Wayan, Budi, Doni Bemo dan kawan-kawan,  baru datang kemudian. Suasana serasa bertemu lagi dengan saudara yang tinggal jauh. Setelah beristirahat sejenak kami kemudian dibawa berkeliling oleh wakil dari Karoseri Adi Putro melihat-lihat dari dekat proses produksi berbagai jenis bus, termasuk microbus di karoseri ini.
Seperti diduga, hari itu Adi Putro memang fully loaded. Boleh dibilang, karoseri ini sedang dalam kapasitas penuh mengerjakan bus pesanan customer dari berbagai operator bus malam, bus pariwisata dan perusahaan jasa travel dari berbagai kota di Pulau Jawa. Puluhan unit sasis bus yang mengantre untuk dibuatkan bodi juga terparkir rapi di halaman parkir depan dan belakang. Ada juga beberapa perusahaan bus yang memasukkan unit lamanya untuk retouch, ganti model seperti dilakukan PO Kramat djati. PO Pahala Kencana juga memasukkan satu unit lama, eks korban laka. Perusahaan otobus berbasis di Kelapa Gading ini sedang banyak memesan bus baru dengan sasis baru di Adi Putro.
Begitu juga sebuah operator bus pariwisata di Jawa Tengah bagian utara. Beberapa PO yang unitnya sudah jadi juga terlihat memesan bus baru dengan livery yang sama-sekali baru dari yang selama ini pernah beredar.
Dibandingkan dengan beberapa karoseri bus di Indonesia yang pernah penulis kunjungi, Adi Putro memang karoseri yang luar biasa. Perusahaan ini memiliki fasilitas jig dan die cast bagus untuk menghasilkan produk bus dengan struktur bodi yang kokoh dan terstandar, baik bus besar maupun bus medium. Fasilitas pembuatan struktur rangka bus di karoseri ini mampu memproduksi 1 unit rangka setiap tiga jam (man hour). Kami juga diperlihatkan fasilitas pemotongan sasis bus untuk sasis ladder frame maupun monocoque. Juga fasilitas pemotongan lembaran baja untuk material kulit bodi. Fasilitas pengecatan di karoseri ini dilakukan di ruang tertutup dengan sistem oven. Puas berkeliling dengan diselingi tanya-jawab, kami mendapat kesempatan melihat dari dekat unit bus jadi di ruangan final check.
Satu unit bus Laks MB OH 1626 yang akan kami jemput malam itu untuk kami bawa pulang ke Jakarta juga sudah jadi. Beberapa teknisi dan tim mekanik Adi Putro sibuk melakukan pemasangan emblem Adi Putro di bagian depan dan belakang bus dan logo Mercedes-Benz silver di hidung bus. Pak Nanto, manajer operasional Laks, sibuk melakukan pengetesan kerja pneumatic pada kedua pintu dan lantai di pintu belakang bus. Laks memang memesan bus ini memang dipesan dengan fitur-fitur spesial. Kedua pintunya digerakkan dengan sistem pneumatic dengan tambahan engkel darurat jika sistem pneumatic tidak bekerja baik. Bagasi atas dilengkapi dengan dua cooler untuk menyimpan minuman dingin selama perjalanan. Bus dengan built-in air suspension ini juga dilengkapi lubang pengisian baterai ponsel di setiap 2 baris bangku penumpang. Kursi Adilla yang terpasang di bus ini dilengkapi reclining dan foot rest. Di kabin belakang bus dipasangi sekat untuk memberikan ruang pengemudi kedua beristirahat selama perjalanan tanpa menganggu penumpang.
Setelah semuanya dianggap beres, sekitar pukul 22.30 WIB bus resmi keluar dari karoseri Adi Putro memulai perjalanan panjang perdana menuju Jakarta, diikuti bus Laks MB OH 1525 nomor lambung 405 G yang kami bawa dari Jakarta.
Rombongan teman-teman terbagi ke dalam dua bus. Bus melaju menuju sebuah rumah makan berlokasi di sebelah barat karoseri Tentrem, tak jauh dari karoseri Adi Putro. Rombongan lanngsung menghambur ke dalam untuk makan malam bersama. Menu prasmanan yang disajikan makan itu cukup menggoda selera. Selain makan dan sholat, sebagian rombongan memanfaatkan untuk mandi. Maklum, sejak berangkat dari Jakarta, badan belum tersentuh oleh air.     
Sekitar sejam kemudian bus melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Beberapa teman BMC Jawa Timur ikut serta mengiringi bus ini sampai ke Jakarta. Sebagian besar mengantar sampai rumah makan ini. Perjalanan panjang menembus kabut malam pun dimulai. (ca) 






photo id="1" />



by bismania community

1 komentar:

  1. Dear Mas Toto

    Salam sejahtera kami sampaikan semoga dalam menjalankan aktifitas kita senantiasa mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa, amin.

    Terimakasih sebelumnya kami ucapkan, karena telah singgah dan menikmati berbagai keistimewaan yang kami hadirkan, mulai dari menu makanan hingga pelayanan prima. Kami sadari sepenuhnya bahwa konsumen merupakan denyut nadi kami, oleh karenanya kami selalu berusaha mendengarkan apa yang diinginkan oleh konsumen.
    Atas nama Manajemen, kami juga mengucapkan permohonan maaf atas kekurangan yang Mas Toto dapatkan ketika berkunjung ke salah satu cabang kami, Pringsewu Indramayu. Kami segera meneruskan ke Divisi terkait untuk memperbaiki kekurangan ini sehingga pada kunjungan berikutnya, hanya akan ada senyuman kebahagiaan dan kepuasan dari Mas Toto dan Busmania yang lain.

    Berusaha menjadi yang terbaik dengan memberi yang terbaik adalah satu hal yang akan terus kami lakukan. Sekali lagi, kami ucapkan terimakasih secara tulus karena kesetiaan Mas Toto mempercayakan kami sebagai restoran pilihan anda dan Busmania. Kami tunggu lagi kedatangan mas Toto dengan penuh cinta, menikmati sebuah romantisme kuliner a la Pringsewu.

    Salam hangat
    Pringsewu Restaurant Group
    @PRINGSEWU_resto

    BalasHapus